Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Tulisan saya. Show all posts
Showing posts with label Tulisan saya. Show all posts

Mengatur Minimum Ventilasi Pada Kandang Closed Housed


Kali ini sesuai judul yg ditulis di atas, kita akan membahas sedikit tentang minimum ventilasi pada kandang broiler systen tertutup atau bahasa kerennya kandang Closed Housed (CH), di mana kandang model ini sudah ramai 10 tahun terakhir khususnya di pulau Jawa dan terus muncul pemain-pemain baru dengan system kandang seperti ini.

Kandang CH sendiri merupakan kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak. Tujuannya ialah untuk menyediakan udara dan iklim yang kondusif bagi ternak sehingga meminimalisasi tingkat stress.

Untuk menyediakan kondisi kandang yg nyaman di dalamnya, kandang CH perlu manajemen yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan di wilayah lokasi kandang, artinya setiap wilayah dengan kondisi lingkungan yang berbeda maka manajemen pengoperasian kandang juga berbeda termasuk salah satunya pengaturan ventilasi undara. 

Banyak kasus ayam bersin atau dikenal di kalangan peternak maupun di kalangan Technical Service (TS) ayam Cekres, biasa di masa pemeliharaan awal maupun akhir, tetapi lebih sering ditemukan kasus terjadi di minggu kedua dan ketiga masa pemeliharaan di mana system intermiten blower masih diterapkan. Tak jarang di group-group komunitas banyak teman-teman menanyakan solusi untuk mengatasi kasus seperti ini, banyak juga yang mengatakan bahwa ini dilema kandang-kandang CH.

Ayam cekres sendiri biasanya terjadi karena adanya iritasi di dalam saluran pernapasan, iritasi ini disebabkan oleh kadar amoniak (NH3) di dalam kandang melebihi batas maksimal sehingga terhirup oleh ayam, untuk di kandang CH biasanya disebabkan karena manajemen ventilasi yg kurang tepat, dalam artian pengaturan jeda hidup dan mati blower (Intermiten) tidak pas dengan kadar amoniak yang dihasilkan dari feses di dalam kandang. Sederhananya jumlah produksi amoniak tidak seimbang dengan waktu pembuangan udara oleh blower dari dalam ke luar kandang. 

MENGATUR INTERMITEN

Untuk dapat mengatur intermiten dengan baik bisa dilakukan dengam dua cara, pertama dengan cara natural dan yang kedua dengan alat tester Amoniak, Oksigen dan Co2. 
Pertama dengan cara natural yaitu kita  bisa menggunakan indra penglihatan dan penciuman serta melihat respon dan tingkah laku ayam di dalam kandang. Cara ini sedikit sulit dilakukan karena butuh pengalaman panjang bertahun-tahun, harus peternak yang berpengalaman dan memgerti pola tingkah laku ayam, faham apa yg diinginkan ayam dan faham tentang respon ayam terhadap kondisi di dalam kandang, dengan kefahaman tersebut diharapkan bs mengambil kesimpulan untuk mengatur intermiten blower yang tepat.

Kedua, dengan menggunakan alat, di sini yang akan kita bahas yaitu menggunakan alat Co2 tester, mengapa alat ini? Ya karena harganya yang masih cukup terjangkau dibandingkan dengan amoniak tester ataupun O2 tester. Parameter yang akan kita gunakan untuk menvatur ventilasi yang teoat di si i adalah kadar Co2 di dalam kandang, yang kita asumsikan co2 bernading lurus denga  kadar nh3 di dalam kandang. 

Batas toleransi kadar co2 di dalam kandang kisaran di angka maksimal 700 ppm, jika melebihi angka ini, ayam cenderung menghirup amoniak yang lebih banyak ketimbang udara segar yang pada akhirnya menyebabkan iritasi oada saluran oernapasan dan efek terburuknya bs keracunan apabila tdk ada pergerakan udara sama sekali.

Langkah yang harus kita lakukan adalah menstandarkan intermiten sesuai tabel manajemen pemeliharaan. Letakan co2 tester kira2 30 cm dr sekam atau litter, amati angka yang muncul mulai blower mati hingga blower hidup lagi. Nah di sini yang ingin kita cari adalah angka co2 kisaran di angka 500-600 ppm saat itu juga blower harus sudah membuang udara, terus ulangi hingga mendapatkan jeda off blower yang optimal, tidak terlalu cepat on juga tidak terlalu lama off. 

Setelah mendapatkan angka menit intermiten yang tepat maka diharapkan kendala amoniak yang menumpuk di dalam kandang ketika masa intermiten bisa diatasi, artinya kita sudah berhasil mendapatkan ventilasi mininum di dalam kandang. Hal ini bs berubah tergantung umur ayam, karena ada kaitannya dengan produksi feses harian. Disarankan untuk dilakukan pengecekan setiap 3 hari sekali saat jadwal iintermiten masih ada di tabel manajemen pemeliharaan. 

 Selamat mencoba. 
0 comments

PAKAN NON AGP, EFEK DAN ANTISIPASINYA



Sabtu, 3 Maret 2018 - Akhir-akhir ini dunia peternakan Indonesia khususnya di bidang Broiler dicemaskan oleh peraturan pemerintahan atas larangan penggunaan antibiotik dalam pakan, peraturan ini efektif sebenarnya awal 2019 hanya saja beberapa perusahaan baru memulai awal tahu ini dan bahkan ada perusahaan lain yang malah sudah memulai lebih dulu lebih awal. Peraturan ini berdasarkan pada Permentan no 14 tentang larangan penggunaan AGP.

Mungkin banyak dari kita yang belum tahu, apa sih AGP itu. Oke AGP singkatan dari Antibiotik Growth Promoter atau jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya Antibiotik Pemacu Pertumbuhan atau dalam beberapa referensi AGP didefinisakan sebagai “semua obat yang menghancurkan dan atau menghambat pertumbuhan bakteri yang diberikan dalam dosis rendah atau disebut dengan Sub-Therapeutic dose (FAO, 2001).” “yang ditambahkan sebagai imbuhan dalam pakan ternak (CDC, 1999).”

Pengertian secara sederhana, AGP sendiri berfungsi sebagai pembunuh bakteri yang berada di dalam usus yang berpeluang menjadi bakteri patogen (penyebab munculnya penyakit) sehingga ketika bakteri itu mati atau berkurang berkibat pada tidak bisa bersaing dengan usus dalam menyerap kandungan nutrisi pakan seperti asam amino, lemak, energi dll. Apabila AGP tidak lagi ditambahkan di dalam pakan, maka peluang tumbuhnya bakteri patogen lebih besar sehingga memperbesar resiko peluang ayam sakit.

Larangan ini sendiri cukup berdasar, di mana jika AGP digunakan dalam pakan dengan jangka waktu yang cukup panjang dikhawatirkan akan terjadi mutasi genetik pada berbagai macam bakteri khususnya yang berada di dalam usus yang pada akhirnya menjadi resisten terhadap antibiotik. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kehidupan manusia jika bakteri resisten terhadap antiobiotik.

Akan terjadi infeksi yang tidak bisa lagi diobati dengan antibiotik sehingga resiko kematian akibat infeksi akan semakin besar. Saat ini juga laju penemuan bakteri jenis baru yang bermutasi genetik lebih banyak ketimbang penemuan-penemuan jenis antibiotik baru. Artinya perkembangan bakteri lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan riset antibiotik.

Hemat saya formulator pakan dari beberapa perusahaan tidak akan tinggal diam melihat fenomena ini, pasti akan ada pengganti AGP walaupun hal itu sepenuhnya tidak bisa menggantikan AGP, karena AGP cukup murah dan meriah. Kalaupun ada pengganti mungkin harganya tidak semurah AGP sehingga peluang naiknya harga pakan cukup besar, cukup dilematis.

Kemudian hal-hal yang perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi akibat pakan non AGP yaitu dengan cara memperketat Biosecurity, biosecurity yaitu usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut, yang perlu diketahui bahwa biosecurity tidak dapat digantikan oleh ANTIBIOTIK DAN VAKSIN. Biosecurity meliputi:

1.  Pengendalian lalu lintas (orang, kendaraan dan perlatan)
2.  Lingkungan kandang yang sehat dan bersih
3.  Program sanitasi yang baik (penggunaan antiseptic dan desinfektan yang tepat)
4.  Pengendalian vektor (tikus, lalat dan kutu)
5.  Program vaksinasi dan aplikasi yang tepat
6.  Program pengobatan yang sesuai
7.  Program monitoring kesehatan hewan
8.  Monitoring sensitifitas obat

Selain memperketat biosecurity, peternaknya juga nampaknya harus lebih banyak bermain prebiotik dan probiotik untuk membantu usus menyerap nutrisi pakan secara optimal, dan terakhir yang perlu kita ingat yaitu rejeki para peternak bukan pada AGP, tetapi tetap faktor ketelatenan dan keseriusan serta doa itu lebih penting.

Semoga bermanfaat.
0 comments

Berat Ayam Broiler di Minggu Pertama Berkorelasi Dengan Berat Akhir di Minggu Kelima?


Jumaat (17 Februari 2017) - Selamat malam semuanya, apa kabar peternak Broiler Indonesia? lama rasanya tidak update tulisan di Blog ini, alhamdulillah pada malam ini sy usahakan agar bisa update tulisan terbaru terkait dunia Broiler, lama rasanya tidak berbagi pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat bagi sebagian pembaca yang meyempatkan diri singgah di Blog sederhana ini.

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan membahas serta memaparkan tulisan yg rinci dan ilmiah, tetapi hanya membuat tulisan opini yang bisa jadi ada hubungannya juga terkadang tidak bisa dihubung-hubungkan, ya... semuanya bergantung pada ketelatenan anak kandang (ABK) setelahnya serta faktor lain yang mempengaruhinya.

Setelah saya jalani selama 2 tahun sebagai petugas lapangan salah satu kemitraan broiler, rasanya ada satu hal yang unik antara performance yang ditampilkan di umur 7 hari dengan hasil akhir di umur 33 hari, saya pikir ini berlaku untuk semua jenis strain DOC. Baik CP, MB 202 dll. Performance yang ssaya maksud pada tulisan ini yaitu Average Body Weight (ABW) di umur 7 hari atau minggu pertama pemeliharaan broiler.

Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi ABW baik itu di minggu pertama dan minggu berikutnya, saya khususkan di sini membahas ABW minggu pertama, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ABW di antaranya berat DOC, kelembaban brooding, suhu brooding, jangkauan tempat pakan dan minum / harus memadai, pencahayaan (min 20 Lux) untuk umur 1- 7 hari serta sistem pelebaran yang tepat agar tidak terjadi kepadatan dan faktor lainnya.

Oke sekarang kita mulai masuk ke inti persoalan, di mana setiap data-data yang saya temukan secara hipotesa berkorelasi dengan bobot akhir di umur 33. misalkan pada umur 7 hari saya mendapatkan data ABW sebesar 170 g, ketika diumur 33 bisa dipastikan dapat mencapai bobot  1.7 kg - 1.8 kg (tergantung jenis kelamin broiler) begitu seterusnya. Ketika mendapatkan data pada umur 7 hari sebesar 200 g, bisa dipastikan pada umur 33 hari ayam bisa mencapai bobot 1.8 - 1.9 kg.

Ini hanya hipotesa saya berdasarkan pengalaman yang saya lihat selama 2 tahu menjadi tenaga lapangan untuk kemitraan broiler, dan yang perlu diingat bahwa kesimpulan / hipotesa saya di atas tidaklah mutlak melainkan juga bergantung pada bagaimana manajemen setelah periode brooding khususnya setelaj 7 hari pemeliharaan, selain itu juga bagaiaman tingkat ketelatenan ABK dan yang pastinya ayam harus sehat, karena jika ayam sakit maka akan beda lagi pembahasannya.

Hipotesa yang saya kemukakan di atas menggunakan DOC jenis CP-707, dan saya pikir ini juga berlaku untuk DOC jenis MB-202, karena berdasarkan diskusi dengan teman sesama profesi yang menggunakan DOC jenis MB 202 mereka juga mengakui hal tersebut, tetapi ini belum ada data rinci dari hasil riset loh ya, baru hanya sebatas Hipotesa, bagi pembaca yang ingin meniliti terkait korelasi bobot di umur 7 hari dengan umur panen (33 hari) silahkan dilakukan, ya siapa tahu bisa jadi skripsi.

Mungkin itu sekilas tulisan untuk update malam ini, semoga bermanfaat untuk pembaca yang sudah singgah di Blog ini khususnya untuk diri saya sendiri. Salam sukses peternak Broiler Indonesia.
0 comments

Manajemen Heatstress Pada Broiler



Ahad, 25 Spetember 2016 - Tulisan ini hanyalah ringkasan dari seminar yang dilaksanakan pada tanggal 22 September 2016 di Novotel Banjarbaru di mana yang menjadi pemateri pada saat itu adalah Drh. Agus Prastowo, dengan tema "Management Heatsress  pada broiler ". Seminar ini diikuti oleh perwakulan masing-masing wilayah Kalsel-teng.

Cekaman panas atau heat stress pada broiler merupakan  kondisi saat ternak mengalami kesulitan untuk mempertahankan keseimbangan produksi dan pembuangan panas tubuh. Ayam akan memproduksi panas dan membuang kelebihan panas tubuh secara terkendali pada zona termonetral (thermoneutral zone) sehingga suhu tubuh konstan. Ketika temperatur lingkungan mencapai ambang batas atas (upper critical temperature), terjadi peningkatan akitivitas pembuangan panas melalui panting. 

Panting adalah respons normal terhadap panas dan dianggap sebagai masalah kesejahteraan hewan (animal welfare). Frekuensi panting meningkat sesuai dengan peningkatan temperatur lingkungan. Produksi panas melebihi kemampuan pembuangan panas yang maksimum (maximum heat loss) menyebabkan kematian setelah ayam menunjukkan cekaman panas yang intens (akut) atau cekaman panas yang berlangsung dalam waktu lama (kronis). Suhu tubuh ayam harus dijaga sekitar 39,9 – 41 oC, ayam akan mati apabila suhu tubuh meningkat sebanyak 4ᵒC atau lebih (Defra, 2005).

Kasus Heatsress di lapangan cukup sering terjadi bahkan hampir sepanjang tahun (untuk Kalimantan Tengah) dan cukup banyak merugikan peternak khususnya yang masih menggunakan kandang sistem open, (Kandang terbuka). Hal ini memang sudah tidak bisa diirubah karena memang tergantung kondisi iklim dan cuaca mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang dilalui garis khatulistiwa sehingga suhu di siang hari bisa mencapai 37ᵒC.

Hatsress berdampak pada menurunnya/melambatnya pertambahan bobot badan broiler di mana ketika  mengalami heatsress, maka secara naluri ayam akan mengurangi konsumsi pakan dan lebih banyak mengkonsumsi air, hal ini dapat menyebabkan resiko kerusakan usus semakin tinggi, hal demikian merupakan respon broiler untuk menanggulangi perubahan suhu lingkungan yang terjadi. Sebaliknya, jika cuaca terlampau dingin maka konsumsi pakan akan meningkat dan konsumsi air minum akan menurun,  karena broiler lebih banyak membutuhkan energi untuk menghasilkan panas tubuh, hal ini biasanya rentan untuk ayam di umur 1 - 4 hari (rentan stress dingin).

Ada beberapa tips cara menangani heatstress pada broiler antara lain:

Perlakuan pada masa brooding
 
Hal yang harus diperhatikan yaitu pada umur 1 - 4 hari, suhu brooding harus nyaman sesuai standar kebutuhan ayam, setelah itu di umur 5 - 7 hari, suhu brooding bisa sedikit dinaikan dari standar kebutuhan ayam, maksud dari perlakuan ini bertujuan agar ayam terbiasa dengan suhu tinggi di mana otot-otot perut dan bagian dada yang menopang system pernapasan akan terbentuk dengan baik, sehingga ketika minggu ke- 3 - 5 ayam sudah terbiasa dan tidak shock pada cekaman panas / suhu lingkungan yang tinggi. Cara seperti ini memang belum ada penelitian khusus hanya berdasarkan pengalaman peternak di lapangan.

Pemberian Soda Kue (Sodium Bikarbonat)
 
Pemberian soda kue juga dapat membantu broiler menghadapi heatsress yaitu dengan harapan agar ayam banyak mengkonsumsi air sebelum heatsress terjadi artinya soda kue harus diberikan 2 - 3 jam sebelum terjadinya heatstress, di sini peternak harus jeli melihat kondisi ayam, maksudnya peternak harus paham kapan heatstress akan terjadi. Soda kue juga mebantu untuk mencairkan darah yang kental pada broiler. Darah mengental biasanya terjadi pada saat heatstress di mana broiler mengalami panting yang terlalu cepat sehingga akan banyak membuang CO2. Dosis Pemberian soda kue sebanyak 3-4 g / Lt air minum.
 
Berjalan mengelilingi ayam di dalam kandang 
 
Maksud dari berjalan ini agar ayam bergerak dan siap untuk menghadapi heatstress dan dilakukan 2 jam sebelum hatstress terjadi, dengan bergerak ayam akan mengalami pengingkatan suhu tubuh sehingga ketika waktu heatstress tiba ayam sudah siap, jika dianalogikansama halnya seperti orang yang melakukan pemanasan sebelum berolahraga.

Mengurangi Density kandang sebesar 10% dari total populasi
 
Pengurangan ini dilakukan agar ruang gerak di dalam kandang sedikit longgar sehingga ketika heatstress terjadi ayam bisa beradaptasi denga cepat. ini juga bermanfaat untuk menghindari density semu yang diakibatkan oleh sinar matahari yang masuk ke dalam kandang, biasanya terjadi pada kandang yang tidak searah dengan arah terbit dan terbenamnnya matahari.
 
Rest Feed (RF)
 
Rest Feed atau metode pemberian pakan dengan system puasa, metode ini bertujuan untuk menghindari kerugian akibat heatsress di siang hari di mana ayam tidak mampu menyerap nutrisi pakan secara maksimal, jika dipaksakan diberi pakan pada jam-jam terjadinya heatstress maka bisa dipastikan pakan yang dimakan ayam tidak terserap menjadi daging, biasanya puasa dimulai 2 jam sebelum heatstress terjadi yaitu sekitar pukul 10.00  / 11.00 dan diberikan pakan lagi pukul 16.00, kemudian pakan yang tidak digunakan di siang hari dialihkan di malam hari ketika suhu rendah. Namun menurut hemat penulis, metode ini perlu sedikit dimodifikasi yaitu menurunkan pakan pada pukul 13.00 sebentar kemudian angkat lagi, artinya ayam diberi pakan namun tidak sampai kenyang, hal ini dilakukan agar ayam tidak mengalami kelaparan dan lemas, pembahasan ini dapat dibaca pada tulisan saya di sini.

Sebagai tambahan dan mungkin tidak ada kaitannya dengan heatstress tetapi saya rasa perlu dimasukan berhubung ini merupakan bagian dari materi yang ada, untuk saat ini ada beberpa cara / metode pemberian pakan yang bisa dilakukan peternak  selain dari RF yaitu: 

Skip Feed (SF)
 
Di mana pakan diberikan dengan cara seling satu hari, maksudnya sehari diberi pakan sehari lagi tidak (hari ini diberi pakan, besok tidak) begitu seterusnya, metode ini hanya bisa diterpakan di daerah dengan suhu nyaman dan biasanya digunakan oleh peternak mandiri yang mengalami kendala penjualan atau harga ayam di pasaran sedang turun, tentu saja tujuannya agar bisa menghindari kerugian.

Full Feed (FF)
 
Saya kira cara ini sudah banyak yang tahu, di mana pakan diberikan secara terus menerus tersedia selama 24 jam (adlibitum), tetapi tidak selamanya metode ini menguntungkan, tergantung kondisi ayam itu sendiri apakah mampu menyerap nutrisi pakan dengan maksimal atau tidak, karena jika tidak mampu menyerap nutrisi pakan dengan maksimal maka siap-siap saja akan mengalami pembengkakan FCR, biasanya untuk pengecekan yaitu dengan cara lakukan 3 hari berturut-turut metode ini kemudian timbang dan hitung FCRnya, jika ayam bisa optimal tumbuh sesuai pakan yang diberikan maka silahkan dilanjutkan metode ini dan biasanya lebih cocok diterapkan di daerah dingin (daerah kaki gunung Rinjani di wilayah Lombok).

Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan di dalamnya, Semoga bermanfaat.
0 comments

Puasa makan pada Broiler, bikin untung atau buntung?



Senin, (19 September 2016) - Pada saat ini, kebutuhan manusian akan protein hewani semakin tinggi seiring bertambahnya jumlah populasi masyrakat dunia, tanpa terkecuali di indonesia. Salah satu yang menjadi favorit kebanyakan orang Indonesia sebagai sumber protein hewani yaitu ayam pedaging (broiler) yang harganya cukup terjangkau untuk semua kalangan. Dengan adanya kebutuhan yang cukup tinggi, maka diperlukan ketersdiaan yang harus terus berlanjut dan dengan jangka waktu yang harus cukup singkat.

Untuk memecahkan masalah ketersediaan yang harus continue dan dengan waktu yang harus singkat maka para ahli genetika terus bekerja merekaiyasa genetik broiler agar bisa tumbuh dalam waktu yang sesingkat mungkin dengan bobot badan siap potong, dan setahu penulis untuk saat ini masih dalam kisaran umur 28 - 35 hari baru bisa dikonsumsi  (masuk pasar) baik dari strain Cobb, Ross maupun Lohman.

Dari hasil rekayasa genetika tersebut, munculah brioler yang di umur 35 hari sudah bisa dikonsumsi sebagaiman penulis sebutkan sebelumnya. Oke sisi positifnya mungkin berakibat pada ketersediaan ayam broiler yang semakin cepat, berkesinambungan serta diikuti juga dengan semakin cepatnya proses perputaran uang pada bisnins ini. Kemudian sisi negatifnya yaitu semakin cepat umur ayam maka ayam akan semakin sensitif, mudah stress dan berbagai macam problem lainya.

Salah satu problem yang cukup menghambat khususnya pada ayam broiler yaitu heatstress, heatsress sendiri biasanya menimpa ayam yang berumur 3 minggu - panen, Heat stress atau cekaman panas merupakan respon fisiologis, biokimia dan tingkah laku terhadap faktor fisik, kimia dan biologis lingkungan. Ayam akan mengalami stress jika mengalami perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti peningkatan tempratur lingkungan atau pada saat toleransi terhadap lingkungan menjadi rendah. 

Heat stress disebabkan oleh tingginya tempratur lingkungan dan berpengaruh negatif terhadap ternak. Kerugian yang ditimbulkan dari heat stres sangat besar karena dapat menurunkan produksi dan meningkatkan angka mortalitas (kematian).

Salah satu solusi yang sering diberikan kepada peternak dengan kandang open house yaitu sistem puasa makan pada broiler, perlakuan ini dianggap bisa menanggulangi heat stress berdasarkan beberapa pembahasan Journal penelitian di beberapa sumber yang pernah penulis baca, namun pada kenyataanya di lapangan berbanding terbalik yang artinya justru dengan menerapkan sistem puasa ini, broiler mengalami perlambatan pertambahan bobot badan, Feed Conversion Ratio (FCR) yang tidak bisa tercapai dan penggunaan pakan yang tidak efisisen. Walaupun kekurangan makan di siang hari diganti dengan full feed di malam hari tetap saja tidak ada pengaruh yang cukup signifikan.

Anggap saja puasa dilakukan mulai umur 16-18 selama dua jam secara bertahap bertambah jumlah jamnya hingga umur 24 sampai panen dengan jumlah jam puasa sebanyak 7 jam. Dari kasus di lapangan dengan penerapan 100% seperti jadwal yang saya tulis di atas, broiler mengalami perlambatan pertumbuhan mulai minggu ke - 4 dan biasanya efek akan terlihat ketika evaluasi FCR di umur 28 hari dan 33 hari.

Dari kasus per kasus, umur  7 dan 14 hari bobot ayam cukup bagus dan FCR selalu bisa tercapai kalupun tidak hanya selisih 0.0 sekian angka. artinya broiler tumbuh dengan baik, ini terjadi hampir di setiap kandang, namun berbeda ketika ditimbang umur 21, 28 dan 33 hari. Bobot yang harusnya bisa terus bertambah dengan baik justru mengalami perlambatan, bobot di bawah standar, FCR yang sudah tidak tercapai, ketika ditimbang umur 33 hari, yang harusnya bisa mencapai bobot 1.8 kg sesuai potensi genetik ayam malah hanya tercapai 1.7 kg, syukur-syukur jika bisa dipanen dengan ukuran sekian, bagaiman jika tidak? tentu saja dengan terus menerus diberikannya pakan dengan pertambahan bobot badan yang tidak optimal hanya akan semakin membuat FCR tidak terkejar / bengkak.

Kasus seperti yang penulikan uraikan di atas hampir terjadi di setiap kandang yang penerapan sistem puasanya terjadwal mulai umur 16 hari. Artinya dengan penerapan yang seperti demikian justru ayam menjadi terlalu lapar, terkadang ayam sampai lemas dan justru menjadi penyebab kematian itu sendiri. akhirnya energi untuk maintenance (untuk bertahan hidup) ketika puasa, broiler mengambil cadangan energi dari lemak yang sudah terbentuk sebelumnya, proses ini terus berlanjut sejak dimulainya program puasa umur 16 hari yang lama kelamaan yang harusnya puasa makan ini berefek baik pada broiler malah justru menjadi penghambat pertambahan bobot badan akibat terus tergerusnya cadangan energi yang secara langsung mengurangi lemak dan cadangan energi lainya yang sudah ada.

Kasus seperti ini sudah penulis amati beberapa periode pada beberapa kandang dan terus terjadi dengan pola yang sama, ketika penulis diskusi dengan beberapa kawan dengan profesi yang sama sebagai Technical Service, yang ahirnya menyimpulkan solusi sebagai berikut:
  1. Pemberian air gula ketika jadwal puasa, yang dimaksudkan agar ketika broiler puasa maka untuk energi maintenance bisa diperoleh dari (Glukosa) pada air gula, di mana kandungan glukosa bisa cepat diproses menjadi energi
  2. Full feed dengan catatan harus ada kipas angin ukuran besar, yaitu pemberian pakan secara adlibitum (terus menerus tersedia)
  3. Melakukan pengembunan air pada broiler ketika temperatur lingkungan tinggi (harus ada kipas dalam kandang agar tidak terjadi kelembaban tinggi dalam kandang)
  4. Jika point 1, 2 dan 3 tidak bisa dilaksanakan dan kondisi cuaca memaksa kita untuk menerapkan sistem puasa, maka ketika penerapan puasa yang dimulai pukul 10.00 pagi tepatnya di umur 24 - panen, ketika pukul 13.30 berikan pakan sedikit pada broiler (turunkan tempat pakan sebentar lalu naikan) yang bertujuan agar ayam tidak terlalu lama lapar yang ujung-ujungnya tidak akan mengambil cadangan energi yang ada pada lemak. Hal ini sudah diterapkan di beberapa kandang dan berhasil mencegah FCR bengkak dengan catatan  evaluasi pada minggu awal memang  FCR tercapai atau paling tidak mendekati standar.
Intinya puasa dengan full jadwal (dari jam 10.00 - 16.00) tanpa ada pemberian pakan di tengah-tengah jadwal puasa bukanlah solusi yang baik untuk menghindari kematian tinggi akibat heat stress, karena justru dapat mengganggu pertumbuhan ayam, FCR menjadi begkak, bobot badan tidak tercapai sesuai potensi genetik dan pada akhirnya bisa merugikan peternak.
0 comments
 
Supported by : Agus blogger team | Agus IT
Copyright © 2011. Agus Saputra Arsip - All Rights Reserved
Template Development by Agus IT
Proudly powered by Blogger