Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Manajemen Heatstress Pada Broiler



Ahad, 25 Spetember 2016 - Tulisan ini hanyalah ringkasan dari seminar yang dilaksanakan pada tanggal 22 September 2016 di Novotel Banjarbaru di mana yang menjadi pemateri pada saat itu adalah Drh. Agus Prastowo, dengan tema "Management Heatsress  pada broiler ". Seminar ini diikuti oleh perwakulan masing-masing wilayah Kalsel-teng.

Cekaman panas atau heat stress pada broiler merupakan  kondisi saat ternak mengalami kesulitan untuk mempertahankan keseimbangan produksi dan pembuangan panas tubuh. Ayam akan memproduksi panas dan membuang kelebihan panas tubuh secara terkendali pada zona termonetral (thermoneutral zone) sehingga suhu tubuh konstan. Ketika temperatur lingkungan mencapai ambang batas atas (upper critical temperature), terjadi peningkatan akitivitas pembuangan panas melalui panting. 

Panting adalah respons normal terhadap panas dan dianggap sebagai masalah kesejahteraan hewan (animal welfare). Frekuensi panting meningkat sesuai dengan peningkatan temperatur lingkungan. Produksi panas melebihi kemampuan pembuangan panas yang maksimum (maximum heat loss) menyebabkan kematian setelah ayam menunjukkan cekaman panas yang intens (akut) atau cekaman panas yang berlangsung dalam waktu lama (kronis). Suhu tubuh ayam harus dijaga sekitar 39,9 – 41 oC, ayam akan mati apabila suhu tubuh meningkat sebanyak 4áµ’C atau lebih (Defra, 2005).

Kasus Heatsress di lapangan cukup sering terjadi bahkan hampir sepanjang tahun (untuk Kalimantan Tengah) dan cukup banyak merugikan peternak khususnya yang masih menggunakan kandang sistem open, (Kandang terbuka). Hal ini memang sudah tidak bisa diirubah karena memang tergantung kondisi iklim dan cuaca mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang dilalui garis khatulistiwa sehingga suhu di siang hari bisa mencapai 37áµ’C.

Hatsress berdampak pada menurunnya/melambatnya pertambahan bobot badan broiler di mana ketika  mengalami heatsress, maka secara naluri ayam akan mengurangi konsumsi pakan dan lebih banyak mengkonsumsi air, hal ini dapat menyebabkan resiko kerusakan usus semakin tinggi, hal demikian merupakan respon broiler untuk menanggulangi perubahan suhu lingkungan yang terjadi. Sebaliknya, jika cuaca terlampau dingin maka konsumsi pakan akan meningkat dan konsumsi air minum akan menurun,  karena broiler lebih banyak membutuhkan energi untuk menghasilkan panas tubuh, hal ini biasanya rentan untuk ayam di umur 1 - 4 hari (rentan stress dingin).

Ada beberapa tips cara menangani heatstress pada broiler antara lain:

Perlakuan pada masa brooding
 
Hal yang harus diperhatikan yaitu pada umur 1 - 4 hari, suhu brooding harus nyaman sesuai standar kebutuhan ayam, setelah itu di umur 5 - 7 hari, suhu brooding bisa sedikit dinaikan dari standar kebutuhan ayam, maksud dari perlakuan ini bertujuan agar ayam terbiasa dengan suhu tinggi di mana otot-otot perut dan bagian dada yang menopang system pernapasan akan terbentuk dengan baik, sehingga ketika minggu ke- 3 - 5 ayam sudah terbiasa dan tidak shock pada cekaman panas / suhu lingkungan yang tinggi. Cara seperti ini memang belum ada penelitian khusus hanya berdasarkan pengalaman peternak di lapangan.

Pemberian Soda Kue (Sodium Bikarbonat)
 
Pemberian soda kue juga dapat membantu broiler menghadapi heatsress yaitu dengan harapan agar ayam banyak mengkonsumsi air sebelum heatsress terjadi artinya soda kue harus diberikan 2 - 3 jam sebelum terjadinya heatstress, di sini peternak harus jeli melihat kondisi ayam, maksudnya peternak harus paham kapan heatstress akan terjadi. Soda kue juga mebantu untuk mencairkan darah yang kental pada broiler. Darah mengental biasanya terjadi pada saat heatstress di mana broiler mengalami panting yang terlalu cepat sehingga akan banyak membuang CO2. Dosis Pemberian soda kue sebanyak 3-4 g / Lt air minum.
 
Berjalan mengelilingi ayam di dalam kandang 
 
Maksud dari berjalan ini agar ayam bergerak dan siap untuk menghadapi heatstress dan dilakukan 2 jam sebelum hatstress terjadi, dengan bergerak ayam akan mengalami pengingkatan suhu tubuh sehingga ketika waktu heatstress tiba ayam sudah siap, jika dianalogikansama halnya seperti orang yang melakukan pemanasan sebelum berolahraga.

Mengurangi Density kandang sebesar 10% dari total populasi
 
Pengurangan ini dilakukan agar ruang gerak di dalam kandang sedikit longgar sehingga ketika heatstress terjadi ayam bisa beradaptasi denga cepat. ini juga bermanfaat untuk menghindari density semu yang diakibatkan oleh sinar matahari yang masuk ke dalam kandang, biasanya terjadi pada kandang yang tidak searah dengan arah terbit dan terbenamnnya matahari.
 
Rest Feed (RF)
 
Rest Feed atau metode pemberian pakan dengan system puasa, metode ini bertujuan untuk menghindari kerugian akibat heatsress di siang hari di mana ayam tidak mampu menyerap nutrisi pakan secara maksimal, jika dipaksakan diberi pakan pada jam-jam terjadinya heatstress maka bisa dipastikan pakan yang dimakan ayam tidak terserap menjadi daging, biasanya puasa dimulai 2 jam sebelum heatstress terjadi yaitu sekitar pukul 10.00  / 11.00 dan diberikan pakan lagi pukul 16.00, kemudian pakan yang tidak digunakan di siang hari dialihkan di malam hari ketika suhu rendah. Namun menurut hemat penulis, metode ini perlu sedikit dimodifikasi yaitu menurunkan pakan pada pukul 13.00 sebentar kemudian angkat lagi, artinya ayam diberi pakan namun tidak sampai kenyang, hal ini dilakukan agar ayam tidak mengalami kelaparan dan lemas, pembahasan ini dapat dibaca pada tulisan saya di sini.

Sebagai tambahan dan mungkin tidak ada kaitannya dengan heatstress tetapi saya rasa perlu dimasukan berhubung ini merupakan bagian dari materi yang ada, untuk saat ini ada beberpa cara / metode pemberian pakan yang bisa dilakukan peternak  selain dari RF yaitu: 

Skip Feed (SF)
 
Di mana pakan diberikan dengan cara seling satu hari, maksudnya sehari diberi pakan sehari lagi tidak (hari ini diberi pakan, besok tidak) begitu seterusnya, metode ini hanya bisa diterpakan di daerah dengan suhu nyaman dan biasanya digunakan oleh peternak mandiri yang mengalami kendala penjualan atau harga ayam di pasaran sedang turun, tentu saja tujuannya agar bisa menghindari kerugian.

Full Feed (FF)
 
Saya kira cara ini sudah banyak yang tahu, di mana pakan diberikan secara terus menerus tersedia selama 24 jam (adlibitum), tetapi tidak selamanya metode ini menguntungkan, tergantung kondisi ayam itu sendiri apakah mampu menyerap nutrisi pakan dengan maksimal atau tidak, karena jika tidak mampu menyerap nutrisi pakan dengan maksimal maka siap-siap saja akan mengalami pembengkakan FCR, biasanya untuk pengecekan yaitu dengan cara lakukan 3 hari berturut-turut metode ini kemudian timbang dan hitung FCRnya, jika ayam bisa optimal tumbuh sesuai pakan yang diberikan maka silahkan dilanjutkan metode ini dan biasanya lebih cocok diterapkan di daerah dingin (daerah kaki gunung Rinjani di wilayah Lombok).

Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan di dalamnya, Semoga bermanfaat.
0 comments

Jangan Tahan Kencing





Sabtu, (18 Juni 2016) - Cerita ini berawal ketika moment bahagia, yup... moment itu berakhir bencana ketika ketidak tahuan akan efek dari melawan sinyal tubuh yangg memang harusnya dituruti, sebagaimana judul tulisan saya ini, "Jangan Tahan Kencing".  Sebelum ke inti cerita mari saya antar pembaca sejenak untuk mengetahui apa itu kencing / urin.

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra (Wikipedia).

Nah dari pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa kencing / buang urin yaitu membuang segala cairan sisa baik dari minuman atau makanan serta dari hasil penyaringan lainya yang berasal dari sekresi Ginjal, ditampung di kandung kemih yang kemudian dikeluarkan melalui saluran uretra.

Oke back to topik, jangan tahan kencing... ketika itu moment bahagia Wisuda, nah karena lokasi tempat duduk saya agak di depan akhirnya malu jika harus terus-terusan ijin untuk buang air kecil. Oy... memang biasanya saya akan sering buang air kecil ketika tubuh kedinginan di pagi hari, ini ceritanya di pagi hari ya, :D.

Waktu terus berlalu (kayak lagu aja :D) acara yang saya pikir sebentar ternyata berlanjut sampai siang hari, ketika pukul 12 siang, tanpa memperdulikan sinyal dari kandung kemih yang terus meminta agar segera buang urin, secara paksa saya terus menahan, karena memang posisi saat itu ruangan tidak ada yang buka, jadi agak sulit juga menemukan toilet.

Oke, singkat cerita, urin saya buang ketika sudah sampai kos sekitar pukul 4 sore, saya buang air kecil ternyata tidak banyak. Bayangkan urin yang saya tahan dari pagi sampai sore hari, betapa banyaknya ternyata yang keluar hanya sedikit. Memang sih tidak kepikiran ternyata ketika kandung kemih penuh, makan urin akan terus naik dan menyentuh ginjal. Nah... di sini lah awal masalahnya.

Sehari setelah wisuda, saya tidak pernah lagi buang air kecil sedikitpun 3-4 hari,, yah.. seperti keran yang mampet gitu lah, awalnya sih bertanya-tanya kok bisa gak ada "ngeden" mau kencing, sampai sini belum ada kepikiran juga, eh gak tahunya ternyata saluran kencing atas saya sedang diserang oleh bakteri alias infeksi :D.

Awalnya demam, dan kalaupun kencing susah keluarnya, cuma sedikit tidak seperti normalnya. Oke ketika keluarga semua pulang ke kampung (sehabis hadiri acara wisuda ya ini ceritanya) di pagi hari tepatnya di hari Idul adha tahun 2014, bangun untuk sholat shubuh saya merasakan sakit perut yang begitu luar biasa, (Warbiyazah - iklan Axis) di sebelah kiri depan awalnya kemudian tembus ke punggung belakang, sampai-sampai keluar keringat dingin, ketika mencoba untuk ganti posisi malah sakitnya tambah parah, hadeh.

Saya mencoba untuk buang air kecil, setelah saya perhatikan kok urin saya warnanya coklat teh. Kaget dan shock, terlintas dipikiran bahwa jangan-jangan Ginjal saya sudah rusak ya Alloh. Saya kembali berbaring sambil menunggu pertolongan, masalahnya orang pada saat itu sedang sibuk ingin pergi sholat Idul Adha. Singkat cerita minta bantuan teman untuk pergi ke rumah sakit, dokter menyuruh saya berbaring dan sakitnya malah pindah ke bagian belakang / pinggang. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh dokter.

Dokter memukul pinggang kiri saya, sakitnya tembus lagi ke depan, saya diberikan antibiotik dan obat penghilang rasa sakit. Ternyata dokter bilang saya mengalami infeksi saluran kencing bagian atas. (Oh my God). Dokter menganjurkan resep antibiotik selama 1 minggu, dan jika tidak ada perubahan ke sini lagi ujarnya.

Setelah 1 minggu berjalan alhamdulillah tidak ada keluhan sakit perut lagi, hanya saja masih sering kencing sedikit-sedikit mungkin efek dari banyak minum agar saluran kencing bersih dari bakteri. Sering kencing ini pun berlangsung lama, cukup mengganggu memang, tetapi ya mau bagaimana lagi wong disuruh banyak minum. Tiga bulan kemudian saya pergi  kontrol / tes urin, Alhamdulillah urin saya normal dan sudah tidak ada lagi bakteri.

Waktu terus berjalan, dipikiran saya hanya ada kematian, mungkin ini teguran dari Alloh juga, saya terus berpikir bagaimana jika saya idak bisa sembuh dan seubrek pikiran aneh lainya. Hingga memasuki 3 bulan berikutnya kira-kira bulan 6 tahun 2015, saya kembali melakukan tes urin lengkap, tentu saja lokasinya sudah berbeda, saat itu saya sudah berada di Kalimantan Tengah kota Palangkaraya. 

Dan hasilnya juga alhamdulillah saya negatif, artinya urin saya normal, tidak ada kandungan batu, dan asam urat ataupun bakteri. Akhirnya bisa sembuh total (tidak sering kencing lagi) setahun setelahnya, artinya saya menikmati sering kencing salam setahun. Oy tes ini saya lakukan setelah beberapa minggu minum obat herbal jika tidak salah namanya Spiruna, itu memang untuk obat saluran kemih dan ginjal.

Saya bersyukur kepada Alloh bisa melewati masa sulit itu, semoga ini menjadi pelajaran untuk pembaca semua khususnya saya sendiri. jadi kembali ke judul JANGAN TAHAN KENCING. Demikian cerita saya kali ini, sebenarnya masih panjang, cuma males ngetik. semoga bermanfaat.

0 comments

Gadis-Gadis Itu Ditenggelamkan Di Lautan -Sepenggal Kisah Masa Jepang Di Bima-




Sepenggal Kisah Masa Jepang Di Bima - Saya lahir di desa Talabiu Bima 13 Juli 1925. Hal itu saya ketahui karena kebiasaan orang tua saya menuliskan kelahiran putera-puterinya di tiang-tiang rumah. Di usia sekitar 7 tahun saya masuk di sekolah Desa di Tente selama 5 tahun, kemudian melanjutkan ke sekolah Uvernement selama 2 tahun dan sekolah pertanian (Landbow Class di Tente selama satu tahun.Boleh dibilang, saya merupakan salah satu putera daerah yang sangat intens menekuni sekolah pertanian. Sultan Muhammad Salahuddin waktu itu sangat memperhatikan kiprah sekolah ini untuk membangun pertanian di tanah Bima.

Berkaitan dengan masuknya Jepang di Bima, saya tidak ingat persis tanggalnya, waktu itu musim kering, pasukan Jepang berlabuh di pelabuhan Bima pada tahun 1942. Saat itu saya baru mulai mengajar di sekolah pertanian yang dibentuk Belanda. Kami senang ketika mendengar Jepang masuk, karena mereka adalah sosok saudara tua sebagai sesama bangsa Asia. Beberapa bulan setelah menginjakkan kaki ke Bima, Jepang mulai merubah seluruh tatanan kehidupan politik, ekonomi, maupun pendidikan. Sekolah –sekolah yang dibangun Belanda itu diganti dengan sekolah berbahasa Jepang, termasuk sekolah Landbow(Pertanian) itu diganti dengan Nama NogiyoGako( Sekolah Pertanian).

Beberapa hari setelah nama sekolah itu diganti, Sultan Muhammad Salahuddin memanggil saya di Istana. Saat itu beliau menanyakan tentang berbagai kemajuan dan kendala yang dihadapi di NogiyoGako Lewirato. Beliau menginginkan salah seorang guru dari sekolah itu untuk melanjutkan pendidikan ke Singaraja Bali untuk terus memajukan sekolah pertanian maupun kiprah para penyuluh pertanian di masyarakat dengan bea siswa dari Pemerintah Kesultanan Bima. Saya terima tawaran itu, berangkatlah saya ke Singaraja. Satu tahun lamanya saya menuntut ilmu di pulau Dewata itu. Pada tahun 1943, saya kembali ke Bima.
Keadaan Bima semakin tidak menentu. Jepang semakin kasar. Masyarakat disuruh Romusya untuk membangun jalan, instalasi militier, lubang persembunyian dan bahkan membangun Bandara di Palibelo. (Cikal Bakal Bandara Sultan Muhammad Salahuddin sekarang).

Perumahan di sekitar Bandara itu dicat dengan warna hitam, agar tidak dilihat oleh pesawat-pesawat sekutu yang setiap saat mengudara di langit Bima. Karena dicat hitam, rumah-rumah itu disebut oleh masyarakat Bima dengan “ Uma Me’e” (Rumah Hitam). Banyak korban berjatuhan sebagai syuhada di sekitar Pantai Lewa Mori dan Bandara Palibelo akibat kerja Romusha yang diterapkan Dai Nippon. Itulah sebabnya kenapa pantai itu disebut dengan Lewa Mori, karena di pantai itulah masyarakat Bima berjuang antara hidup dan mati membangun ambisi “ Saudara Tua” untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Tidak hanya itu, kebun-kebun rakyat dijadikan barak penampungan para wanita dari tanah Jawa maupun Sumatera untuk melampiaskan nafsu prajurit Dai Nippon. Di sepanjang jalan Soekarno - Hatta –jembatan penatoi hingga Sadia adalah barak-barak penampungan itu. Ada juga sebagian di Rabangodu dan kampung Melayu. Setiap hari tentara Jepang bergiliran datang ke barak itu. Saya sering melewati tempat itu dan kami tidak disuruh menoleh ke arah barak, kami jalan lurus saja karena takut dengan hukuman Tentara Dai Nippon. Kadang-kadan kami pun berpapasan dengan perempuan-perempuan itu ketika keluar untuk belanja dan keperluan lainnya. Mereka masih sangat muda, putih dan cantik-cantik. Dari senyum yang terurai di bibirnya, ada sebuah harapan yang tersembunyi dan ingin mereka katakan. “ Selamatkanlah kami, kembalikan kami ke tanah leluhur.”

Suatu senja, saya kebetulan lewat Barak itu menuju ke NagiyoGako. Saya berpapasan dan membernaikan diri bertanya kepada salah seorang penghuni barak itu asal pulau Jawa.Saya tidak ingat namanya. Dia menuturkan bahwa mereka di bawa ke Bima untuk dijadikan perawat dan pekerja di kantor-kantor perwakilan Jepang. Mereka tidak menyangka kalau nasib mereka akan menjadi seperti itu, pelampias nafsu para tentara Jepang. Mereka pasrah pada keadaan itu, dan terus berdoa semoga mereka bisa kembali ke Jawa dan menajalani hidup dengan normal.

Bagaimana dengan gadis-gadis Bima ? Adakah yang diambil Jepang sebagai Ianfu ?
Tidak ada satu pun Gadis Bima yang dibawa Jepang menjadi IANFU. Hanya saja ada beberapa perempuan Bima yang sering dibawa Jepang ke Barak penampungan untuk diperkerjakan sebagai tukang cuci, tukang masak, tukang pijit dan lain-lain. Salah seorang yang saya kenal bernama MINA NANGKO ( Nama Bimanya Aminah) asal Sape. Dia memang sering dibawa Jepang ke Barak Penampungan, tetapi sore hari dia kembali ke rumahnya.
Tahun 1944 adalah torehan waktu yang tidak akan pernah saya lupakan dalam sejarah hidup saya. Beberapa bulan setelah saya menikah pasar Bima dibom oleh sekutu. Pelataran Istana pun dibom, Masjid Kesultanan Bima rata dengan tanah dan tinggal mihrabnya saja yang berdiri. Untuk menjaga keselamatan Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya, Jepang membawanya ke Desa Dodu. Karena desa itu terlindung oleh gunung-gunung dan serangan udara Sekutu.

Di tengah kepanikan yang luar biasa itu, Jepang mengeluarkan keputusan dan permintaan yang sangat bertolak belakang. Mereka meminta gadis-gadis Bima untuk dikirim dan dipekerjakan sebagai pelayan bar, perawat maupun pegawai kantor perwakilan Jepang di Jawa dan Sumatera. Permintaan itu disampaikan langsung kepada sultan Muhammad Salahuddin, para Jeneli (Camat) maupun Gelarang (Kepala Desa). Seluruh Jeneli dan Gelarang menolak permintaan itu. Secara spontan Sultan Muhammad Salahuddin mengeluarkan ultimatum kepada para orang tua untuk sesegera mungkin menikahkan puterinya agar tidak diambil oleh Jepang. Diutamakan pernikahan dilakukan dengan keluarga dekat, supaya prosesnya cepat.


Suasana panik terjadi dimana-mana. Dalam satu keluarga terdapat dua sampai lima pasang pengantin yang dinikahkan. Setiap hari ratusan pasangan pengantin dilangsungkan ijab Kabul. Penghulu sangat kelelahan naik turun rumah panggung untuk proses akad nikah.pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana, hanya dengan kopi dan jajanan. Itulah sejarah yang mungkin tidak pernah terjadi di negeri manapun di muka bumi ini. Orang tua para gadis mencarikan jodoh untuk anak gadisnya. Kadang yang lakinya ganteng, tetapi yang ceweknya jelek, demikian juga sebaliknya, mereka tidak pernah pecaran seblumnya, cinta mereka bangun setelah menikah. Peristiwa itulah dalam sejarah Bima dikenal dengan Nika Baronta.

Yang tidak sempat dinikahkan, para gadis disembunyikan di atas loteng rumah. Kadang-kadang mereka menetap dibawah kolong-kolong rumah, bergelut dengan tanah liat untuk membuat periok dan perlengkapan rumah tangga dari tanah liat. Kadang juga mereka berdandan seperti nenek-nenek. Sehingga menyurutkan niat Dai Nippon untuk membawa dan mengambil mereka untuk dijadikan JUGUN IANFU.

Setelah Jepang Kalah Perang dan Seokarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, para wanita itu dibawa pulang ke tanah Jawa dan Sumatera. Beberapa bulan kemudian tersiar kabar bahwa mereka ditenggelamkan dan dibunuh di tengah lautan. Tidak satupun di antara mereka yang kembali ke tanah Jawa. (Dari Penuturan langsung almarhum H.Abubakar Ismail, Ketua Legium Veteran Bima).

Sumber: Oleh bapak Alan Malingi
0 comments

Panther Tua Hingga Pengalaman Pertama Memakai Jasa Travel.



Ahad, 27 Desember 2015 - Tak terasa sebentar lagi memasuki tahun 2016, artinya bulan Januari ini genap 1 tahun sudah saya berada di Bumi Borneo (Kalimantan). Bulan Desemeber pertama yang mengesankan, banyak kenangan yang tentu saja harus diabadikan dalam bentuk tulisan agar bisa dikenang 5 - 10 tahun yang akan datang. 

Ke Pelaihari Yang Gagal

Sesuai janji dengan atasan, pada hari kamis sebelumnya (24/12/15) kami bertemu di Pulpis dalam rangka menjemput / menemani pak Dokter hewan yang akan datang ke kandang peternak yang ayamnya sakit, beberapa hari sebelumnya sempat membahas bahwa akan ada perubahan formasi Tecnical Service (TS) untuk wilayah Palangkaraya, saya akan kembali di tempatkan di Palangkaraya yang saat ini ditempatkan di Pulpis. Hal ini terjadi karena adanya PPL yang tidak bisa lagi menjadi orang lapangan dikarenakan sakit (pasca operasi).

Perubahan posisi ini juga diikuti dengan diberikannya mobil operasional (Pickup Panther) untuk wilayah Palangkaraya agar memperlancar pekerjaan TS, misal untuk transfer pakan. Eits,, jangan senang dulu, ini mobil tua aset perusahaan yang sudah lama tidak terpakai. Jadi ada banyak yang harus dipernaiki. Tapi tetap saja sykuri apa yang ada karena tidak akan kehujanan dan kepanasan lagi. Alhamdulillah.

Oke back to topik, Sesuai janji di kantor, saya akan di antara ke cabang perusahaan di Pelaihari tempat mobil itu berada, insyaAllah hari Jumaat rencananya, dan kemungkinan hari sabtu sudah kembali ke Pulpis. QadaraAllah, rencana gagal karena atasan ada kendala, kedua anaknya demam dan tidak bisa ditinggal. Yo wes lah, dijanjikan tanggal 31 satu lagi, akhir tahun. Mudah-mudahan bukan PHP lagi. :D


Silaturahmi di hari Natal

Seperti idul fitry, natal di Palangkaraya ternyata ramai, dan ada acara silaturahminya, saling mengunjungi / bertamu antar warga baik itu yang muslim maupun yang nasrani, saya lihat sih cuma ada di sini, dan itu sudah menjadi budaya setiap tahunya. So natal itu cuma moment saja bukan saya ikutan merayakan natal loh, ya diniatkan untuk silaturahmi saja.
Pertama ke rumah mertuaa mas Hendra, pemilik ruko yang kami jadikan kantor perusahaan di sini, kami disambut dengan ramah, ruangan yang dihiasi dengan satu phon natal beserta kueh-kueh di dalamnya (seperti lebaran gitu lah), selain kueh, ada juga soto dan lauk pauk lainya yang sengaja disediakan untuk tamu yang datang silaturahmi.

Esoknya ke rumah Mbak Meinita, mbak Mei merupakan admin di kantor, jadi sesuai janji dengan teman-teman, kita akan pergi ke sana yang tentu saja diniatkan untuk silaturahmi bukan ikut merayakan natal, dampaknya di kehidupan masyrakat tentu saja besar, mungkin ini salah satu faktor mengapa kota Palangkaraya merupakan salah satu kota yang paling toleransi di Indonesia.

Kami disambut ramah oleh keluarga ibu Meinita, dijamu sebagaimana layaknya tamu. Kali ini kami sekalian survei kadang Ibu Meinita yang katanya mau diisi oleh perusahaan, yang keren kan walau hari libur tapi kerja tetap jalan, salah satu ciri orang lapangan ya memang begitu, tidak terikat oleh waktu. Oke, urusan kadang fix dan akhirnya kami kembali ke rumah Ibu Mei untuk pamit pulang.

Pulang ke Pulpis naik Travel :(

Hari minggu akhirnya harus pulang, kembali ke Pulpis karena hari senin harus sudah turun gunung untuk cek and ricek persiapan kandang peternak, awalnya menurut rencana saya ikut atasan ambil mobil ke pelai hari dan pulang ke pulpis, karena batal akhirnya harus balik menggunakan jasa travel, semacam angkot tetapi menggunakan mobil pribadi.
Ini merupakan pengalaman pertama menggunakan jasa travel, dengan biaya 70 ribu, anda akan dijemput di rumah. Satu mobil diisi oleh 7 penumpang, tentu saja berdesak-desakan, dan yang paling parah ada salah satu penumpang yang mabuk kendaraan, tentu saja menyebabkan aroma yang tidak sedap di dalam kendaraan, sempat-sempat sampai ikut mual. Parah, mending naik motor dah.

Oke sekian yang bisa saya ceritakan, tunggu kisah berikutnya pada tulisan yang akan datang, insyaAllah akan update seminggu sekali dengan ringkasan kejadian selama semingu yang tentu saja layak untuk diabadikan dalam tulisan. Thankyou.


0 comments

Borneo, Pulau Seribu Sungai. Sekilas Tentang Kalimantan Tengah


Sabtu, (21 Nov 2015) - Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak pulau sehingga disebut sebagai negara yang terbentuk dari pulau-pulau atau negara kepulauan, salah satu pulau terbesar berada di Indonesia yaitu pulau Kalimantan. Pulau ini dihuni oleh tiga Negara di antaranya, Indonesia, Malaysia dan Brunei, namun hampir 70% milik Indonesia.

Selepas lulus kuliah dulu ketika melamar pekerjaan dan mendengar desas-desus akan ditempatkan di wilayah Kalimantan, sontak pikiran ini langsung mengarah ke suatu alam yang penuh dengan pepohonan dan hutan rimba serta sungai-sungai yang masih asli, penduduk yang masih tradisional serta jalan-jalan yang belum diaspal dan hewan-hwan buas. Karena yang sering terlihat dan ditampilkan di televesi tentang pulau ini ya hutan dan sungai-sungainya.

Singkat cerita, saya pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan di wilayah Banjarmasin Kalimantan Selatan, di sana kantor pusat untuk perusahaan se- Kalsel-Kalteng, jadi untuk awal-awal kami akan ditraining di desa Bati-Bati Kalimantan Selatan.
 
Ternyata kondisi yang sebenarnya jauh dari apa yang dibayangkan selama ini, Kalimantan baik kota dan desannya hampir sama seperti Kota dan desa-desa yang ada di Indonesia yang pernah saya kunjungi, yang membuatnya berbeda hanyalah kondisi georafis karena memang di Kalimantan ini hampir seluruh kondisi geografisnya dataran rendah dan bergambut, dengan sungai-sungainya yang luas.

Di penghujung bulan Januari 2015, training kami pun selesai dan siap di tempatkan di cabang perusahaan di seluruh Kalsel-Kalteng, setelah melalui proses diskusi dan kocok nama akhirnya saya sendiri mendapatkan tempat di wilayah Kalteng tepatnya di Kab. Pulang Pisau. Di sana ada beberapa kandang plasma yang bekerja sama dengan perusahaan kami. Istilah Plasma sendiri merupakan sebutan untuk kandang yang bekerja sama dengan perusahaan yang disebut Inti (Inti dan Plasma).

Setelah lama bekerja kurang lebih 9 bulan, saya lebih banyak melihat orang pendatang ketimbang orang lokal, kebanyakan pendatang dari jawa yang ikut program Transmigrasi pada jaman dulu sehingga populasinya semakin banyak hingga saat ini. Dari hasil penelusuran saya ternyata jalan lintas Kalimantan ini baru diaspal sekitar tahun 2000-an, sebelumnya masyrakat Kalimantan Tengah mengandalkan transportasi sungai dengan menyewa jasa Speed Both yang setiap hari lalu lalang melintas di sungai Khayan.

Sungai Kahayan sendiri merupakan sungai yang melintasi Kalimantan Tengah, jadi jangan heran banyak rumah-rumah suku asli di sini kebanyakan berada di pinggir sungai karena memang dari dulu sungai merupakan jalur transportasi yang sangat penting bagi suku asli. Awalnya memang saya bingung mengapa rumah-rumah penduduk lokal lebih banyak di pinggir sungai, ternyata memang sungai dulu sebelum jalur darat selesai diaspal merupakan jalur utama transportasi ekonomi masyrakat.

Sungai Kahayan tampak di Siang Hari

Dan yang paling menarik di sini yaitu nilai toleransi yang cukup baik, secara umum pemeluk agama Nasrani dan Islam hampir sama, tetapi sejak dulu di sini tidak pernah ada konflik antara kedua pemeluk agama ini, semuanya rukun dan damai bahkan menariknya satu keluarga ada yang berbeda keyakinan, dan untuk di Kota Palangkaraya masjid dan gereja dibangun berdapingan.

Untuk sektor ekonomi, dari hasil penelusuran saya kebanyakan yang memegang kendali yaitu orang-orang Banjarmasin kalimantan selatan, hampir semua pemilik toko dan warung-warung kecil di pinggir jalan semuanya milik orang Banjar atau keturunan Banjarmasin, memang masyrakat Banjarmasin dikenal sejak dulu pandai berdagang. Tidak seperti di jawa kebanyakan pemilik toko berasl dari keturunan Tioghoa. Untuk masyrakat asli kebanyakan bermata pencarian sebagai petani sawit dan karet dan sebagian menjadi nelayan. Untuk petani sayuran dan padi kebanyakan digeluti oleh warga pendatang seperti dari jawa dan banjarmasin.

Salah seorang warga suku lokal


Hingga saat ini dengan system transportasi yang belum lama dibangun, sebagian desa-desa masih menyebrang menggunakan jasa Fery kayu, biasanya untuk mempersingkat jarak tempuh, karena yang ada hanya jembatan di jalur lintas, sedangkan jembatan alternatif belum ada, ini menurut saya salah satu penghambat pembangunan ekonomi masyrakat, karena butuh biaya lebih untuk memasarkan barang dagangan ke desa-desa yang jauh. Itulah gambaran kehidupan masyrakat Kalimantan yang saya pikir mewakili seluruh kalimantan. Semoga bermanfaat

Semoga negeri kita makmur dan pembangunan segera dapat merata di seluruh pelosok tanah air.

0 comments
 
Supported by : Agus blogger team | Agus IT
Copyright © 2011. Agus Saputra Arsip - All Rights Reserved
Template Development by Agus IT
Proudly powered by Blogger