Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Kelemahan dan keunggulan Tempat Pakan Ayam (Super Feeder)

 


0 comments

Mengatur Minimum Ventilasi Pada Kandang Closed Housed


Kali ini sesuai judul yg ditulis di atas, kita akan membahas sedikit tentang minimum ventilasi pada kandang broiler systen tertutup atau bahasa kerennya kandang Closed Housed (CH), di mana kandang model ini sudah ramai 10 tahun terakhir khususnya di pulau Jawa dan terus muncul pemain-pemain baru dengan system kandang seperti ini.

Kandang CH sendiri merupakan kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak. Tujuannya ialah untuk menyediakan udara dan iklim yang kondusif bagi ternak sehingga meminimalisasi tingkat stress.

Untuk menyediakan kondisi kandang yg nyaman di dalamnya, kandang CH perlu manajemen yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan di wilayah lokasi kandang, artinya setiap wilayah dengan kondisi lingkungan yang berbeda maka manajemen pengoperasian kandang juga berbeda termasuk salah satunya pengaturan ventilasi undara. 

Banyak kasus ayam bersin atau dikenal di kalangan peternak maupun di kalangan Technical Service (TS) ayam Cekres, biasa di masa pemeliharaan awal maupun akhir, tetapi lebih sering ditemukan kasus terjadi di minggu kedua dan ketiga masa pemeliharaan di mana system intermiten blower masih diterapkan. Tak jarang di group-group komunitas banyak teman-teman menanyakan solusi untuk mengatasi kasus seperti ini, banyak juga yang mengatakan bahwa ini dilema kandang-kandang CH.

Ayam cekres sendiri biasanya terjadi karena adanya iritasi di dalam saluran pernapasan, iritasi ini disebabkan oleh kadar amoniak (NH3) di dalam kandang melebihi batas maksimal sehingga terhirup oleh ayam, untuk di kandang CH biasanya disebabkan karena manajemen ventilasi yg kurang tepat, dalam artian pengaturan jeda hidup dan mati blower (Intermiten) tidak pas dengan kadar amoniak yang dihasilkan dari feses di dalam kandang. Sederhananya jumlah produksi amoniak tidak seimbang dengan waktu pembuangan udara oleh blower dari dalam ke luar kandang. 

MENGATUR INTERMITEN

Untuk dapat mengatur intermiten dengan baik bisa dilakukan dengam dua cara, pertama dengan cara natural dan yang kedua dengan alat tester Amoniak, Oksigen dan Co2. 
Pertama dengan cara natural yaitu kita  bisa menggunakan indra penglihatan dan penciuman serta melihat respon dan tingkah laku ayam di dalam kandang. Cara ini sedikit sulit dilakukan karena butuh pengalaman panjang bertahun-tahun, harus peternak yang berpengalaman dan memgerti pola tingkah laku ayam, faham apa yg diinginkan ayam dan faham tentang respon ayam terhadap kondisi di dalam kandang, dengan kefahaman tersebut diharapkan bs mengambil kesimpulan untuk mengatur intermiten blower yang tepat.

Kedua, dengan menggunakan alat, di sini yang akan kita bahas yaitu menggunakan alat Co2 tester, mengapa alat ini? Ya karena harganya yang masih cukup terjangkau dibandingkan dengan amoniak tester ataupun O2 tester. Parameter yang akan kita gunakan untuk menvatur ventilasi yang teoat di si i adalah kadar Co2 di dalam kandang, yang kita asumsikan co2 bernading lurus denga  kadar nh3 di dalam kandang. 

Batas toleransi kadar co2 di dalam kandang kisaran di angka maksimal 700 ppm, jika melebihi angka ini, ayam cenderung menghirup amoniak yang lebih banyak ketimbang udara segar yang pada akhirnya menyebabkan iritasi oada saluran oernapasan dan efek terburuknya bs keracunan apabila tdk ada pergerakan udara sama sekali.

Langkah yang harus kita lakukan adalah menstandarkan intermiten sesuai tabel manajemen pemeliharaan. Letakan co2 tester kira2 30 cm dr sekam atau litter, amati angka yang muncul mulai blower mati hingga blower hidup lagi. Nah di sini yang ingin kita cari adalah angka co2 kisaran di angka 500-600 ppm saat itu juga blower harus sudah membuang udara, terus ulangi hingga mendapatkan jeda off blower yang optimal, tidak terlalu cepat on juga tidak terlalu lama off. 

Setelah mendapatkan angka menit intermiten yang tepat maka diharapkan kendala amoniak yang menumpuk di dalam kandang ketika masa intermiten bisa diatasi, artinya kita sudah berhasil mendapatkan ventilasi mininum di dalam kandang. Hal ini bs berubah tergantung umur ayam, karena ada kaitannya dengan produksi feses harian. Disarankan untuk dilakukan pengecekan setiap 3 hari sekali saat jadwal iintermiten masih ada di tabel manajemen pemeliharaan. 

 Selamat mencoba. 
0 comments

Menghitung Kebutuhan Kipas dan Cellpad Kandang Tertutup (Close House System)


PENGATAR

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenahi berapa jumlah ideal kipas yang dipakai dalam kandang tertutup / close house maka saya mencoba membahasnya, kalau ada yang salah mohon dikoreksi.
Sebelum kita membahas lebih lanjut yang perlu kita fahami adalah prinsip dasar.



  1. Kandang close house adalah sistem perkandangan yang menyediakan atau memberikan sirkulasi udara yang baik bagi ayam. Sistem ini harus mampu memberikan suplai oksigen yang cukup dan membuang gas gas berbahaya seperti CO 2 dan  amoniak.
  2. Memberikan kondisi suhu dan kelembaban optimal bagi ayam.
Untuk mendapatkan hal tersebut maka perhitungan jumlah kipas dan inlet yang  tepat mutlak diperlukan.

MENGHITUNG JUMLAH KIPAS 

Mengingat dari prinsip close di atas maka jumlah kipas yang dipasang harus mampu memindahkan udara dalam kandang keluar dalam jangka waktu tertentu, hal ini tergantung dari volume ruang kandang kecepatan angin yang dikendaki.
Berikut adalah grafik hubungan antara kecepatan angin dan penurunan suhu

Hal yang lain yang perlu diperhatikan adalah kecepan max angin yang ideal bagi ayam, sebagiamana tabel berikut :
Disamping faktot diatas yang harus diperhitungkan adalah panas badan yang keluar dari tubuh ayam yang harus dikeluarkan dari dalam kandang, Dari hasil penelitian diperoleh  konstanta per kg berat badan dibutuh kecepatan angin 4 cfm untuk memperoleh suhu yang ideal. Tentu halangan angin juga harus diperhitungkan
Dasar inilah yang saya anggap paling ideal untuk menetukan jumlah kipas pada kandang tertutup.

SIMULASI KANDANG UKURAN  12 x 120 m

Asumsi : 
Fan 50 inch daya hisap 44.500 m3/jam atau 26.190 cfm
Kepadatan 13 ekor/m2
Berat afkir 2,2 kg

Maka kebutuhan kipas 

(12 x 120 x 13 x 4 x 2,2) / 26.190  = 6,2 dibulatkan 7 kipas.

Akan tetapi perhitungan di lapangan faktor pembaginya tidak 26.190 tetapi 22.500 hal ini mempertimbangkan halangan dalam kandang dan penurunan kemampuan kipas


Jadi hasil akhirnya  
(12 x 120 x 13 x 4 x 2,2) / 22.500  = 7,3  dibulatkan 8 kipas.


MENHITUNG INLET CLOSE HOUSE

Dalam menhitung inlet close kita berpedoman pada jumlah kipas serta kecepatan angin yang dikendaki
Misal jika pakai fan 50 inch dengan daya hisap 44.500 m2/jam dengan kecepatan angin 2,3 m/detik di dekat celldeck maka luas inletnya

(44.500m2/jam : 3600) ; 2,3 = 5,37 m2


SEMOGA BERMANFAAT
1 comments

Belajar Baca Kotoran Ayam

Drh.Moh Indro Cahyono
Peneliti virus & praktisi penanganan wabah penyakit hewan

Karena sudah waktunya makan siang maka saya akan mengajak sampean utk belajar "membaca" kotoran ayam.
Kotoran ayam terdiri dr 2 bagian, bagian putih = asam urat dr kencing ayam (berhubungan dg ginjal) & bagian berwarna = kotoran ayam (berhubungan dg usus).

Kencing ayam yg bagus akan mengandung sedikit asam urat, semakin banyak asam urat menunjukan ketidak seimbangan dlm.tubuh ayam krn terlalu banyak material yg harus di filtrasi/saring oleh ginjal.

Kotoran ayam, bisa dibaca dari 3 hal :

1. Warna kotoran : 
Hijau, berasal dr cairan empedu yg dikeluarkan saat ayam tidak makan. Bisa krn infeksi virus atau bakteri kronis.
Coklat, berasal dr sisa pakan yg tidak tercerna, bisa krn infeksi bakteri di usus.
Kuning, berasal dr runtuhan pelapis usus + sisa pakan, biasanya krn infeksi bakteri atau protoza.
Merah, berasal dari darah di saluran usus belakang, umumnya krn protozoa eimeria (koksidiosis/berak darah)
Hitam, berasal dr darahbdi saluran usus depan (duodenum/jejunum) umumnya krn luka akibat koksidiosis atau bakteri clostridium.

2. Bentuk kotoran
Kering, padat = normal
Lembek = proses pembusukan sisa pakan oleh bakteri
Berbusa = gas akibat racun dari bakteri (coli/NE)

3. Bau kotoran
Tidak berbau padat = normal
Tidak berbau, encer putih + hijau = infeksi virus
Bau busuk = infeksi bakteri di usus
Bau amis darah = infeksi koksidiosis

Semua metode pembacaan ini HANYA SEBAGIAN dr metode diagnostik lapangan utk membaca penyakit. Diagnosa terbaik adl dengan menggabungkan pembacaan kotoran + bedah ayam/nekropsi + riwayat gejala penyakit. Semakin lengkap semakin tepat diagnosa.
Salah diagnosa = salah pengobatan = ayam gak sembuh.
















Tetap semangat & terus belajar bersama, semoga bermanfaat.

0 comments

PAKAN NON AGP, EFEK DAN ANTISIPASINYA



Sabtu, 3 Maret 2018 - Akhir-akhir ini dunia peternakan Indonesia khususnya di bidang Broiler dicemaskan oleh peraturan pemerintahan atas larangan penggunaan antibiotik dalam pakan, peraturan ini efektif sebenarnya awal 2019 hanya saja beberapa perusahaan baru memulai awal tahu ini dan bahkan ada perusahaan lain yang malah sudah memulai lebih dulu lebih awal. Peraturan ini berdasarkan pada Permentan no 14 tentang larangan penggunaan AGP.

Mungkin banyak dari kita yang belum tahu, apa sih AGP itu. Oke AGP singkatan dari Antibiotik Growth Promoter atau jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya Antibiotik Pemacu Pertumbuhan atau dalam beberapa referensi AGP didefinisakan sebagai “semua obat yang menghancurkan dan atau menghambat pertumbuhan bakteri yang diberikan dalam dosis rendah atau disebut dengan Sub-Therapeutic dose (FAO, 2001).” “yang ditambahkan sebagai imbuhan dalam pakan ternak (CDC, 1999).”

Pengertian secara sederhana, AGP sendiri berfungsi sebagai pembunuh bakteri yang berada di dalam usus yang berpeluang menjadi bakteri patogen (penyebab munculnya penyakit) sehingga ketika bakteri itu mati atau berkurang berkibat pada tidak bisa bersaing dengan usus dalam menyerap kandungan nutrisi pakan seperti asam amino, lemak, energi dll. Apabila AGP tidak lagi ditambahkan di dalam pakan, maka peluang tumbuhnya bakteri patogen lebih besar sehingga memperbesar resiko peluang ayam sakit.

Larangan ini sendiri cukup berdasar, di mana jika AGP digunakan dalam pakan dengan jangka waktu yang cukup panjang dikhawatirkan akan terjadi mutasi genetik pada berbagai macam bakteri khususnya yang berada di dalam usus yang pada akhirnya menjadi resisten terhadap antibiotik. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kehidupan manusia jika bakteri resisten terhadap antiobiotik.

Akan terjadi infeksi yang tidak bisa lagi diobati dengan antibiotik sehingga resiko kematian akibat infeksi akan semakin besar. Saat ini juga laju penemuan bakteri jenis baru yang bermutasi genetik lebih banyak ketimbang penemuan-penemuan jenis antibiotik baru. Artinya perkembangan bakteri lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan riset antibiotik.

Hemat saya formulator pakan dari beberapa perusahaan tidak akan tinggal diam melihat fenomena ini, pasti akan ada pengganti AGP walaupun hal itu sepenuhnya tidak bisa menggantikan AGP, karena AGP cukup murah dan meriah. Kalaupun ada pengganti mungkin harganya tidak semurah AGP sehingga peluang naiknya harga pakan cukup besar, cukup dilematis.

Kemudian hal-hal yang perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi akibat pakan non AGP yaitu dengan cara memperketat Biosecurity, biosecurity yaitu usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut, yang perlu diketahui bahwa biosecurity tidak dapat digantikan oleh ANTIBIOTIK DAN VAKSIN. Biosecurity meliputi:

1.  Pengendalian lalu lintas (orang, kendaraan dan perlatan)
2.  Lingkungan kandang yang sehat dan bersih
3.  Program sanitasi yang baik (penggunaan antiseptic dan desinfektan yang tepat)
4.  Pengendalian vektor (tikus, lalat dan kutu)
5.  Program vaksinasi dan aplikasi yang tepat
6.  Program pengobatan yang sesuai
7.  Program monitoring kesehatan hewan
8.  Monitoring sensitifitas obat

Selain memperketat biosecurity, peternaknya juga nampaknya harus lebih banyak bermain prebiotik dan probiotik untuk membantu usus menyerap nutrisi pakan secara optimal, dan terakhir yang perlu kita ingat yaitu rejeki para peternak bukan pada AGP, tetapi tetap faktor ketelatenan dan keseriusan serta doa itu lebih penting.

Semoga bermanfaat.
0 comments
 
Supported by : Agus blogger team | Agus IT
Copyright © 2011. Agus Saputra Arsip - All Rights Reserved
Template Development by Agus IT
Proudly powered by Blogger